![]() |
| Apindo ungkap ongkos bisnis tinggi jadi rem besar pertumbuhan ekonomi 2026. (Dok. Ist) |
KEDIRITERKINI.ID — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti tingginya ongkos berusaha sebagai tantangan serius dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Beban biaya yang besar dinilai masih membayangi aktivitas produksi, distribusi, hingga transaksi ekonomi, akibat persoalan struktural yang belum sepenuhnya teratasi.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menegaskan, dunia usaha saat ini menghadapi realitas biaya operasional yang jauh lebih mahal dibandingkan sejumlah negara lain.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha dan investor berpikir ulang dalam mengembangkan bisnis di dalam negeri.
“Saat ini terus terang kita punya cost of doing business jauh lebih tinggi. Nah, kalau kita lihat cost, itu ada beberapa faktor,” kata Shinta dalam diskusi bertajuk Economic Insight 2026: Unlocking Indonesia's Hidden Engine of Growth yang digelar di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Perbaikan struktural jadi kunci
Shinta menilai upaya pemerintah dalam membuka keran investasi perlu dibarengi dengan pembenahan struktural yang nyata dan tidak membebani dunia usaha.
Menurutnya, investor global kini semakin selektif dan cermat melihat negara mana yang menawarkan fleksibilitas serta kepastian usaha jangka panjang.
Ia mengingatkan, tanpa reformasi yang konsisten, Indonesia berisiko kehilangan momentum untuk menarik investasi berkualitas yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Regulasi berlapis bikin investor ragu
Selain tingginya biaya, Shinta juga menyoroti persoalan regulasi yang masih menjadi perhatian utama investor.
Aturan yang berlapis dan kompleks kerap mengalihkan fokus investor dari pengembangan model bisnis dan inovasi, karena energi tersita untuk mengurus kepatuhan administratif.
Menurut Apindo, penyederhanaan regulasi dan kepastian hukum menjadi prasyarat penting agar biaya berusaha dapat ditekan dan iklim investasi semakin kompetitif.

