![]() |
| Pemkot Kediri melibatkan pelajar SMA sebagai pendidik sebaya untuk mengampanyekan gaya hidup sehat dan mencegah hipertensi remaja. (Dok. Ist) |
KEDIRITERKINI.ID — Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri, Jawa Timur, menggandeng pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai peer educator atau pendidik sebaya guna memperkuat penerapan gaya hidup sehat di lingkungan sekolah. Langkah ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesadaran remaja terhadap pencegahan hipertensi sejak usia dini.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri Hamida mengungkapkan, hasil evaluasi menunjukkan masih ditemukan kasus tekanan darah tinggi pada kelompok usia remaja. Menurutnya, pendekatan melalui teman sebaya dinilai lebih efektif untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada para pelajar.
"Pendekatan gaya hidup sehat kepada remaja akan jauh lebih efektif apabila disampaikan oleh teman sebaya," katanya di Kediri, Jumat.
Kasus hipertensi mulai ditemukan pada remaja
Data Aplikasi Sehat Indonesiaku (SSI) Kota Kediri tahun 2025 mencatat sebanyak 5.697 remaja berusia 15 hingga 17 tahun telah menjalani pemeriksaan tekanan darah. Dari jumlah tersebut, terdapat 234 siswa atau sekitar 4,1 persen yang memiliki tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih.
Hamida menilai data tersebut menjadi indikasi bahwa hipertensi kini mulai muncul pada kelompok usia yang lebih muda.
Beberapa faktor yang diduga berkontribusi terhadap kondisi tersebut antara lain kurangnya aktivitas fisik, tingginya konsumsi makanan instan dengan kadar natrium tinggi, serta tekanan akademis maupun sosial yang dihadapi para remaja.
Pelajar dibekali edukasi dan keterampilan kesehatan
Sebagai bagian dari program tersebut, Pemkot Kediri menyelenggarakan Lokakarya GEN Z SEHATI (Sehat Anti Hipertensi) yang melibatkan para pelajar SMA.
Dalam kegiatan itu, peserta memperoleh pembekalan mengenai pencegahan hipertensi, kesehatan mental, hingga keterampilan melakukan pemeriksaan kesehatan dasar.
Materi disampaikan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Bhayangkara Kediri M. Ujung Baehaqi serta psikolog UIN Syekh Wasil Kediri Shofi Mirwani. Selain sesi teori, peserta juga mengikuti praktik pemeriksaan kesehatan menggunakan peralatan medis.
Diharapkan menjadi agen perubahan di sekolah
Pemkot Kediri berharap para peserta mampu menjalankan peran sebagai peer educator sekaligus agen perubahan di sekolah masing-masing.
Mereka diharapkan aktif memberikan edukasi, mengampanyekan pola hidup sehat, melakukan konseling sebaya, serta mendorong deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular di lingkungan sekolah.
Hamida juga meminta tim pelaksana Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di setiap sekolah memberikan dukungan kepada para pendidik sebaya agar kegiatan edukasi kesehatan dapat berlangsung secara terarah dan berkelanjutan.
Salah seorang peserta, Gracia, siswa SMAK St. Agustinus Kediri, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru setelah mengikuti lokakarya tersebut, mulai dari cara mengukur tekanan darah, memahami hipertensi pada remaja, hingga pentingnya menjaga kesehatan mental.
"Setelah mengikuti kegiatan ini, saya ingin mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Saya mau mencoba menyeimbangkan pola makan, porsi makanan, dan asupan gizi yang perlu saya cukupi dalam setiap piring yang saya makan," ujarnya.

